Angin berhembus kencang mengabarkan teriakan histeris ke setiap telinga warga, sontak semua orang terdiam sejenak meyakinkan pendengaran mereka dan bertanya-tanya dari mana arahnya. Langkah seribu mulai mereka pasang berduyun-duyun menghampiri asal teriakan. Tua muda besar kecil semuanya tergabung dalam rombingan, penampilan merekapun bermacam-macam, tapi tak ada yang peduli karena pikiran merak telah disesaki oleh Seribu tanya. Napas mereka mulai tampak memburu wajahnya mengkilap oleh kucuran peluh yang terus mengucur dari pori-pori. Rasa lelah tak sempat mereka ungkapkan lewat keluhan lantaran rasa penasara lebih besar menguasai hati mereka.
Di depan sebuah rumah yang terbuat dari bambu langkah mereka terhenti. Suasana mulai berubah mencekam, hati mereka terasa miris melihat apa yang telah terjadi. Tampak semua wajah mengerutkan kening dan membelalakkan mata tak percaya terhadap apa yang mereka saksikan. Isak tangis mulai terdengar dari para pemilik hati yang iba. Tanpa ada yang memandu semua orang berseru layaknya paduan suara. “oooooooohh…… tidak…!!!”
***
Desa telang merupakan daerah yang berpenduduk kurang lebih dari lima ratus jiwa. Masyarakatnya hidup damai dengan terjalinnya ikatan emosianal yang sangat erat diantara mereka. Penuh dengan rasa kekeluargaan dan saling bahu membahu dalam segala hal. Jarang sekali bahkan dapat dikatakan tidak pernah ada perseteruan dilingkungan itu, yaaaaaa mungkin hanya pertengkaran kecil dalam suatu keluarga dan pertengkaran antar anak-anak kecil yang saling berebut mainan.
Kehidupan di desa telang tergolong sangat sederhana, mayoritas mata pencaharian masyarakatnya adalah sebagai seorang petani tulen yang sehari-harinya berbaur dengan tanah tanpa menggeruk sepeserpun rupiah. Dapat dibayangkan kan betapa sulit dan kerasnya kehidupan mereka. Pemerintah setempat kurang begitu bertanggung jawab dalam pembangunan desa tersebut, buktinya sarana umum seperti jalan raya tak ada yang di aspal dan MCK umum tidak tersedia, jadi masih banyak masyarakat yang memanfaatkan kali wurung sebagai tempat untuk membersihkan tubuh, pakain dan isi perut mereka.
Diantara beberapa kepala rumah tangga, ada satu keluarga yang tinggal aga’ kepinggir dari desa yaitu keluarga pak Markawi. Rumah bambu yang setia menjaga istri, anak dan dirinya sudah tampak lapuk dimakan usia. Pak Markawi hanya dikaruniai seorang anak perempuan dari hasil hubungannya dengan bu Sariye, istrinya. Tapi keduanya sudah cukup bersyukur atas kehadirannya.
“An,,,, Ani,,, dimana kamu?” panggil bu Sariye pada anaknya. Tapi belum ada jawaban
“Dimana sih tu anak, siang-siang begini ko’ malah keluyuran….” Omelnya. Lantas ia keluar rumah dan menanyakan kesetiap orang yang dijumpainya, tapi tak satupun yang tau.
“bu ,,, bu Sariye cari Ani ya???” tiba-tiba ada seorang ibu setengah baya bertanya kepada bu Sariye.
“Iya,, apa nak Marni melihatnya??”
“he’em,,, tadi saya lihat dia sama teman-temannya di kali Wurung.”
“ooh,, makasih ya nak.”
“iya bu,, sama-sama, mari ya bu.” pamit Marni
“iya.” Jawab bu sariye sambil berjalan meneju kali wurung. Setibanya disana ia mengajak Ani pulang karena hari sudah siang tak lupa ia menjewer kuping Ani dan mengomelinya diperjalanan.
Ani sebenarnya anak yang baik, mungkin karena dia masih berusia 7 tahun jadi dia sering pergi bermain dengan teman-temannya untuk mengobati rasa ingin taunya terhadap kehidupan sekitar yang dicipta oleh tuhan. Saat ini Ani masih duduk di kelas 2 madrasah ibtida’iyah yang berada di desanya. Semua anak-anak menuntut ilmu di lembaga tersebut karena belum ada sekolah dasar milik pemerintah, itupun merupakan sekolah satu-satunya yang ada di desa telang jadi banyak anak-anak yang lulus menjadi pengangguran karena tidak mampu untuk meneruskan ke sekolah SMP yang ada di kecamatan.
Ani sangat rajin, ia diberi keistimewaan berupa kecerdasan oleh tuhan hingga ia menjadi juara kelas di sekolahnya. Setiap subuh dan maghrib ia diajari oleh ibunya membaca huruf hija’iyah dan latin. Saat ini Ani sudah cukup fasih membaca kalimat Arab dan latin.
Selain itu Ani juga cantik tidak seperti ibu dan bapaknya. Mungkin kecantikan Ani diperoleh dari nenek moyangnya dulu. Dia merupakan anak yang periang walaupun keadaan keluarganya melarat. Dia tak pernah rewel meminta sesuatu pada kedua orang tuanya karena ia mengerti kalau keduanya tidak bisa memberinya apa-apa selain kasih sayang. Ani merupakan hiburan terindah bagi pak Markawi dan bu Sariye.
“ibu dari mana aja sih,, dari tadi di tungguin ga’ dateng-dateng. Bapak capek nih, lapar baru dateng kerja. Bukannya disambut, eehh,,, malah keluyuran. ” bentak pak Markawi di teras rumah saat melihat bu Sariye datang bersama Ani. Pak Markawi orangnya temperamental jadi dia sering naik darah kalau ke mauannya tidak segera terpenuhi.
“bisa ga’ sih pak kalau satu kali aja ga’ marah-marah,, tadi saya tu nyariin Ani” jawab bu Sariye tak kalah lantangnya.
“oooh,,, sudah berani merintah ya ma suami, ,,”
Plaaaakkk… tangan pak Markawi menghantam pipi bu Sariye.
Aooow… ringis bu Sariye menahan rasa sakit sambil memegangi pipinya. Tampak warna merah bergaris di pipinya dan sedikit darah di bibirnya, air mata perlahan menetes dari kedua matanya. Ani yang sejak tadi berdiri di dekat mereka kemudian meringsuk memeluk paha bu Sariye dengan wajah ketakutan, ia menangis sejadi-jadinya. Pak Markawi pergi tanpa berkata apa-apa lagi meninggalkan isak tangis istri dan anaknya.
Saat itu pula para warga berkerumun di halaman pak Markawi menyaksikan apa yang terjadi barusan. Semua tampak menggeleng-gelengkan kepala terhadap apa yang telah pak Markawi lakukan pada istrinya. Kumudian satu persatu orang-orang mulai meninggalkan halaman rumah itu, ada pula yang menghampiri bu Sariye dengan perasaan iba dan meminta bu Sariye tuk bersabar dengan sikap pak Markawi yang selalu kasar kepadanya.
Dedi Zamrani
Aktif di Teater Suneidesis UKMFE UTM
Terlahir dari rahim ponpes annuqayah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar